Keadilan Areopagus

sidang pembunuhan di atas bukit suci yang mengakhiri tradisi balas dendam

Keadilan Areopagus
I

Pernahkah kita merasa darah tiba-tiba mendidih saat seseorang berbuat tidak adil kepada kita? Rasanya ada dorongan primitif di dalam dada yang berteriak, menuntut pembalasan. Teman-teman, jangan merasa bersalah dulu jika pernah mengalaminya. Dorongan untuk membalas dendam itu sangat manusiawi.

Sejak zaman purba, manusia bertahan hidup dengan prinsip yang sederhana: mata ganti mata. Secara evolusioner, membalas dendam adalah mekanisme pertahanan diri. Ini adalah cara nenek moyang kita mengirimkan sinyal bahaya kepada kelompok lain bahwa mereka tidak bisa diinjak-injak begitu saja. Namun, ada satu masalah besar dengan sistem balas dendam ini. Ia tidak pernah benar-benar selesai. Satu nyawa dibalas nyawa lain, lalu keluarga yang ditinggalkan akan menuntut hal yang sama. Lingkaran setan ini terus berputar.

Lalu, bagaimana caranya umat manusia, yang secara biologis didesain untuk menyimpan dendam, pada akhirnya bisa belajar untuk duduk tenang dan mencari keadilan tanpa harus menumpahkan darah? Untuk menjawab ini, saya ingin mengajak teman-teman mundur ribuan tahun ke belakang, ke sebuah bukit berbatu di Athena, Yunani. Di sanalah sebuah revolusi cara berpikir manusia dimulai.

II

Mari kita bahas sedikit soal apa yang terjadi di otak kita saat kita menyimpan dendam. Secara psikologis dan neurobiologis, dendam itu ironisnya sangat adiktif. Saat kita merencanakan pembalasan, otak kita melepaskan dopamine, hormon yang terkait dengan antisipasi dan penghargaan. Kita merasa puas hanya dengan membayangkan orang yang menyakiti kita menderita.

Tapi, ilmu pengetahuan juga mencatat bahwa setelah dendam itu terbalaskan, kepuasan yang datang hanya bertahan sesaat. Setelahnya, otak kita justru dibanjiri hormon stres, karena kita tahu tindakan kita akan memicu ancaman baru. Di dunia kuno, siklus saling bunuh antarkeluarga atau klan ini dikenal dengan istilah blood feud atau vendetta.

Bayangkan betapa melelahkannya hidup di era tersebut. Setiap orang harus selalu waspada. Tidak ada tidur yang nyenyak. Tidak ada yang bisa menjamin keadilan selain ujung pedang. Umat manusia jelas membutuhkan sebuah jalan keluar. Kita butuh sebuah sistem penghentian, sebuah intervensi kognitif skala besar untuk memutus sirkuit dendam tersebut. Di sinilah sejarah mencatat sebuah transisi yang luar biasa. Sebuah transisi yang mengubah rasa amarah menjadi sebuah institusi peradaban.

III

Untuk memahami transisi ini, kita harus melihat sebuah kisah epik yang sangat populer di kalangan masyarakat Yunani Kuno. Kisah tentang seorang pemuda bernama Orestes. Ceritanya bermula dari tragedi keluarga yang sangat kelam. Ayah Orestes dibunuh oleh ibunya sendiri. Menurut hukum darah masa itu, Orestes memiliki kewajiban moral untuk membalas dendam kematian ayahnya.

Namun, di sinilah letak jebakan psikologisnya. Jika Orestes membiarkan ibunya hidup, ia akan dicap sebagai anak durhaka dan dikutuk karena membiarkan pembunuh ayahnya bebas. Tapi, jika ia membunuh ibunya demi sang ayah, ia melakukan dosa yang paling tak termaafkan di dunia kuno: menumpahkan darah ibunya sendiri. Orestes akhirnya memilih pilihan kedua. Ia membunuh ibunya.

Begitu darah ibunya tumpah, siklus dendam langsung mengambil alih. Orestes dikejar-kejar oleh Erinyes atau The Furies, monster-monster purba penjaga hukum darah yang mewakili rasa bersalah dan dendam kesumat. Orestes berlari hingga ke ujung kewarasannya, dikejar oleh monster yang menuntut nyawanya. Tidak ada jalan keluar. Umat manusia saat itu menyadari bahwa jika dibiarkan, hukum balas dendam hanya akan menyisakan dunia yang diisi oleh orang-orang buta dan mati. Siapa yang berhak menghentikan monster-monster purba ini? Bagaimana cara kita memuaskan rasa keadilan tanpa harus memutar kembali roda pembunuhan?

IV

Di sinilah puncak revolusi sejarah itu terjadi. Menyadari kebuntuan ini, dewi kebijaksanaan, Athena, turun tangan. Namun, alih-alih menggunakan sihir atau kekuatan dewata untuk langsung menghakimi Orestes, Athena melakukan sesuatu yang jauh lebih cerdas. Ia mengumpulkan dewa-dewi dan warga terbaik Athena di atas sebuah bukit suci yang disebut Bukit Ares, atau Areopagus.

Di atas bukit berbatu itulah, Athena menggelar sidang pembunuhan pertama dalam sejarah peradaban. Ini adalah momen Big Reveal dari umat manusia. Untuk pertama kalinya, dendam tidak diselesaikan dengan pedang, melainkan dengan kata-kata, argumen, dan bukti. Erinyes diberi ruang untuk menuntut, dan Orestes diberi ruang untuk membela diri. Keputusan tidak diambil berdasarkan siapa yang paling kuat, melainkan melalui pemungutan suara atau voting.

Hasilnya? Suara juri terbelah sama rata. Menghadapi jalan buntu ini, Athena memberikan suara penentunya untuk membebaskan Orestes. Namun, bagian paling jenius dari peristiwa Areopagus bukanlah pembebasan Orestes, melainkan apa yang dilakukan Athena pada Erinyes. Athena tidak membunuh monster-monster dendam itu. Ia merangkul mereka, mengubah nama mereka menjadi Eumenides (Yang Berbuat Baik), dan memberi mereka tempat terhormat di kota Athena sebagai penjaga keadilan yang baru.

Secara psikologis, ini adalah metafora yang brilian. Dendam dan amarah primitif di dalam amigdala otak kita tidak perlu dibunuh atau ditekan habis-habisan, karena itu mustahil. Yang perlu kita lakukan adalah mengubah arahnya. Areopagus adalah momen di mana manusia belajar mendelegasikan hak balas dendam pribadinya kepada pihak ketiga yang netral: institusi hukum. Ini adalah kemenangan nalar atas insting.

V

Keadilan Areopagus lebih dari sekadar mitos usang atau catatan sejarah berdebu. Ia adalah cerita tentang pendewasaan spesies kita. Ketika kita melihat sistem peradilan, hakim, juri, dan pengacara hari ini, kita sedang melihat warisan dari bukit berbatu tersebut.

Tentu, sistem keadilan kita saat ini jauh dari kata sempurna. Terkadang kita masih merasa marah dan ingin main hakim sendiri saat sistem gagal melindungi kita. Itu wajar. Namun, kisah Areopagus mengingatkan kita pada satu hal penting: tanpa adanya jeda untuk berpikir objektif, kita hanya akan kembali menjadi budak dari siklus dendam yang menghancurkan.

Teman-teman, kita sebenarnya membawa pengadilan Areopagus ini di dalam kepala kita setiap hari. Letaknya ada di prefrontal cortex, bagian otak yang mengatur logika, empati, dan pengendalian diri. Setiap kali kita disakiti, dan kita memilih untuk mengambil napas panjang, menimbang situasi, alih-alih langsung membalas dengan amarah buta, kita sedang mengulang sejarah indah di atas bukit Athena. Kita sedang membuktikan bahwa manusia selalu memiliki kapasitas untuk memutus rantai kebencian, dan memilih keadilan yang menyembuhkan.